Senin, 27 Februari 2017


SUDUT PENGAMBILAN GAMBAR (ANGLE)

LOW ANGLE







HIGH ANGLE






FROG EYE ANGLE



NORMAL ANGLE



BIRD EYE ANGLE




Rabu, 23 Maret 2016

INSPIRASI UNTUK BENGKULU "BENGKULU SEPERTI INI, SALAH SIAPA?"



INSPIRASI UNTUK BENGKULU

BENGKULU SEPERTI INI, SALAH SIAPA?


 

Menyandang predikat sebagai salah satu daerah tertinggal di wilayah Sumatra maupun di Indonesia membuat Provinsi Bengkulu dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat. Berbagai permasalahan bersemayam dan bahkan terus bermunculan, bukan hanya dari satu sektor melainkan dari hampir semua sektor yang secara kasat mata dapat terlihat secara jelas.


                Salah satu yang menjadi permasalahan adalah sektor pariwisata. Bahkan kebun binatang “Taman Remaja” di anugerahi gelar kebun binatang terburuk di dunia. Dari segi bangunan maupun koleksi satwa yang sangat tidak terkelola dengan baik. Jika sudah dapat anugerah seperti itu, ini salah siapa?

                Pantai yang paling terkenal di Bengkulu, yaitu pantai panjang saja belum sanggup menampakkan pesonanya. Jelas saja, tidak ada yang istimewa di pantai ini ketimbang pantai wisata di daerah lain. Bahkan sepanjang garis pantai terlihat pemandangan yang kurang sedap dipandang oleh mata, ya, lapak pedagang yang tidak tertata dengan rapih dan sampah bertebaran dimana-mana. Ini salah siapa?

                Jikalau sudah seperti ini, sulit rasanya kita untuk menghakimi siapa yang paling bersalah. Tidak hanya pantai dan kebun binatang, objek wisata vital peninggalan sejarah antara lain benteng Marlborough, rumah pengasingan Soekarno, dan musium daerah pun dapat dikatakan sepi pengunjung ketimbang dengan Mall yang ada di Kota Bengkulu. Ini salah siapa?

                Menjadi seorang pemuda yang seharusnya penuh semangat menjalani proses perubahan, namun saya tidak demikian. Saya selalu bertanya siapa yang salah di daerah ini. Sekali lagi, saya tidak mau menghakimi siapapun dalam keadaan yang sedang terjadi pada Bengkulu kita tercinta saat ini.

                Sebagai provinsi yang terletak di daerah tepi laut, perkebunan yang luas dan kekayaan perut bumi yang melimpah, namun kesejahteraan menjadi kata yang “mahal” bagi hampir seluruh masyarakat Bengkulu. Karena apa? Tentu saja mayoritas masyarakat kita berada di bawah garis kesejahteraan. Ini salah siapa?

                Di bagian pelayanan publik pun tidak begitu baik. Ambil saja contoh pelayanan kesehatan. Harapan kita sebagai calon pasien adalah mendapatkan pelayanan terbaik dan sambutan hangat dari petugas medis. Namun kenyataannya tidak demikian, bahkan kita dihadapkan dengan raut wajah masam penuh kekesalan petugas medis apabila kita datang diwaktu yang menjelang waktu istiahat mereka.

                Ruang lingkup kesehatan yang seharusnya diisi oleh orang-orang  dengan jiwa penuh simpati dan empati malah diisi oleh orang yang penuh keacuhan dengan orang lain, ang mungkin saja sangat membutuhkan pertolongan mereka. Karena pada dasarnya kesehatan adalah salah satu faktor utama penunjang kesejahteraan. Kalau sudah begini, salah siapa?

               

Sisi lain yang membuat daerah ini kurang bersahabat terutama wilayah kota adalah sikap individualisme masyarakatnya. Tidak ada kehangatan sama sekali yang tercipta ke sesama, apalagi ke para wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu. Jadi jangan heran jikalau pariwisata Bengkulu sangat sepi dan pengunjung diluar Bengkulu. Ini salah siapa?

                 Bagi sebuah Provinsi, identitas sangatlah penting, terutama apabila ingin “menjual” keistimewaan daerah tersebut. Kita ambil contoh, saat disebut Jakarta, orang akan terfikir Monas dan  ondel-ondel, Bandung dengan Gedung sate dan segala keistimewaan “Paris van Java”nya. Jogja akan  terpikir tentang malioboro dan gudegnya. Bengkulu, punya apa? Apakah masyarakat diluar Bengkulu tau? Jawaban ada pada diri anda sendiri.

                Krisis identitas? Ya tentu saja. Selama ini yang saya adalah Bengkulu tidak ada terfokus kepada satu andalan yang bakal menjadikan “simbol”  Bengkulu itu sendiri. Karena apa? Tentu saja inkonsistensi sebagian orang yang mengaku cinta Bengkulu tetapi setengah hati memperbaiki Bengkulu.

                Kegundahan saya diatas mungkimn dirasakan oleh sebagian orang terutama para pemuda yang memiliki semangat perubahan tetapi tidak tahu harus bersuara kepada siapa. Maklum pemimpin daerah agak anti untuk menerima kritik dan turun kebawah apabila mereka sudah berada diatas.

                Di era keterbukaan informasi dan digital saat ini para tokoh dan lembaga pelayan masyarakat kurang “welcome” dalam melayani dan mendengar kritikan masyarakat yang sejatinya adalah orang-orang yang menggaji mereka di lingkungan pemerintahan.

                Saat ini mungkin terkesan agak aneh apabila kita hanya memberi kritik tanpa memberi solusi. Tanpa bermaksud menggurui, namun ini adalah gagasan dari ketidaknyamanan saya selama ini. Dari semua masalah yang kompleks diderita Bengkulu tentu saja ada celah masuk untuk memperbaikinya.

                Salah satu cara termudah adalah membangun jalur komunikasi yang tepat antara pemegang kekuasaan dengan para masyarakat. Tentu saja agar para pemimpin tahu apa yang diinginkan oleh masyarakatnya. Hal ini juga untuk memapas jarak yang cenderung lebar antara pemimpin dengan rakyatnya.

                Cara seperti ini cenderung ampuh dilakukan, sebut saja Ridwan Kamil di Bandung, Ganjar Pranowodi Jateng yang aktif menggunakan media sosial untuk mendengarkan keluhan rakyatnya. Dan yang tak kalah penting adalah setiap lembaga pemerintahan di kota Bandung sudah memilki akun twitter agar lebih mudah mendengarkan kritik, saran dan keluhan dari warga kota Bandung.


                Apakah Bengkulu mau mengikuti cara tersebut? Saya rasa  tidak ada salahnya, namun yang  tak kalah penting adalah hanya bisa memperkirakan baik dan buruknya. Ciptakanlah suasana senyaman mungkin di Bengkulu, “karena kualitas manusia salah satunya ditentukan oleh faktor suasana ditempat ia tinggal” -Ridwan Kamil-.

Rabu, 23 Desember 2015

SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA MY THEORY "CONSTITUTIVE VIEW OF COMMUNICATION"

Constitutive View Communication (Pandangan Konstitutif Komunikasi)


Pandangan konstitutif komunikasi berarti adalah menganggap komunikasi atau interaksi adalah proses penciptaan makna. Ide dasar pandangan ini mempengaruhi proses komunikasi Interpersonal dan komunikasi Intrapersonal. Komunikasi diansumsikan seperti bangunan dasar social, artinya memiliki hubungan pribadi dan organisasi serta memiliki sejarah sehingga memunculkan berbagai macam teori.
Teori komunikasi pada awalny amasih berupa model. Dalam buku komunikasi klasik tahun 1972, C. David Mortenson mendefinisikan model sebagai represetasi sistematis dari objek atau kejadian ideal atau abstrak. Model komunikasi berarti gambaran dari proses bergerak yang mengidentifikasikan dasar komponen dari proses komunikasi dan bagaimana mereka berhubungan. Model masih berisikan konsep sedangkan hasil pengembangan lebih lanjut dari konsep inilah yang akan menghasilkan sebuah teori. Secara umum model adalah bentuk dasar teori.
Suatu pemahaman komunikasi sebagai penyampaian pesan searah dari seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat (selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Pemahaman komunikasi sebagai proses searah sebenarnya kurang sesuai bila diterapkan pada komunikasi tatapmuka, namun tidak terlalu keliru bila diterapkan pada komunikasi publik (pidato) yang tidak melibatkan tanya jawab. Pemahaman komunikasi dalam konsep ini, sebagai definisi berorientasi-sumber. Definisi seperti ini mengisyaratkan komunikasi semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respon orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap suatu tindakan yang disengaja untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu sesuatu kepada orang lain atau membujuk untuk melakukan sesuatu.
Komunikasi sebagai interaksi adalah menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian. Seseorang menyampaikan pesan, baik verbal atau nonverbal, seorang penerima bereaksi dengan memberi jawaban verbal atau nonverbal, kemudian orang pertama bereaksi lagi setelah menerima respon atau umpan balik dari orang kedua, dan begitu seterusnya. Contoh definisi komunikasi dalam konsep ini, Shanon dan Weaver (dalam Wiryanto, 2004), komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja dan tidak terbatas pada bentuk pada bentuk komunikasi verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni , dan teknologi.
Model awal dikenal komunikasi yang dikembangkan oleh Aristoteles dalam teori retorika dan bukti. Aristoteles tujuannya adalah preskriptif -untuk menginstruksikan orang lain untuk menjadi pembicara persuasif yang efektif. Teori komunikasi kontemporer adalah bertujuan deskriptif untuk menggambarkan, menjelaskan, memprediksi, dan / atau mengontrol fenomena komunikasi. Pandangan awal abad ke-20 komunikasi yang sangat mekanistik, mengobati komunikasi sebagai proses seperti mesin dimana informasi atau pesan yang digambarkan sebagai perjalanan melalui saluran.
Model-model mekanistik juga dikenal sebagai model linear. Model ini dikenalkan oleh Shannon-Weaver karena proses komunikasi digambarkan sebagai garis. Model ini pada dasarnya garis melakukan perjalanan melalui kotak, menggambarkan sebuah Sumber informasi mengirimkan pesan melalui transmitter (encoder), yang mengubah pesan untuk sinyal, mengirimkannya melalui saluran yang dipengaruhi oleh kebisingan. Sinyal kemudian melewati penerima (decoder), yang mengubah sinyal kembali ke pesan yang akhirnya mencapai tujuannya.
Pada tahun 1954, Wilbur Schramm menciptakan salah satu model pertama dari komunikasi manusia tatap muka. Dari pengirim dan penerima, Schramm Model digambarkan penafsir yang bersamaan encoders dan decoders. Meskipun pesan masih digambarkan sebagai perjalanan sepanjang garis melingkar, dimulai dengan juru pertama sebagai encoder, bepergian ke penafsir kedua sebagai decoder, dan kemudian kembali dari juru kedua sebagai encoder kembali ke penerjemah asli sebagai decoder. Schramm adalah sarjana pertama untuk model komunikasi sebagai proses interaktif.
Model-model dasar komunikasi (linear / tindakan dan melingkar / interaksi) yang sering disebut sebagai pandangan transmissive komunikasi karena mereka menggambarkan komunikasi sebagai suatu proses dimana sesuatu (pesan, informasi, dll) ditransmisikan dari orang ke orang. Tetapi bahkan model komunikasi-sebagai-interaksi dengan cepat menjadi memuaskan sebagai pemikiran kita menjadi lebih canggih dan fokus kami bergeser dari pesan ke yang berarti. Sarjana komunikasi mulai fokus pada proses komunikasi bukan sebagai pertukaran pesan atau transmisi hanya makna tapi sebagai penciptaan makna.
Generasi ketiga dari model komunikasi adalah model nonlinear, juga disebut model komunikasi sebagai transaksi. model transaksional fokus pada fungsi komunikasi dan mewakili asal-usul pandangan konstitutif komunikasi. Yang paling terkenal dari model ini adalah dikembangkan oleh Dean Barnlund pada tahun 1970.
Barnlund digunakan representasi grafis kompleks spiral dan melengkung panah untuk mewakili terus menerus, diulang, sifat ireversibel komunikasi. Artinya sebagai ditugaskan atau dikaitkan daripada menerima. Seiring dengan interactants, decoding, encoding, dan pesan, Barnlund ini Model termasuk satu set isyarat bervalensi: isyarat publik (di lingkungan), isyarat pribadi (di atau di orang), dan isyarat perilaku yang disengaja (nonverbal dan verbal). Semua komponen ini digambarkan sebagai saling terkait dan terus berkembang.
Ide komunikasi sebagai transaksi melalui mana komunikator makna diciptakan memiliki efek mendalam di lapangan. Ulama cepat bergerak di luar menciptakan representasi grafis tambahan proses komunikasi dalam bentuk model bergambar. Sifat dasar dari representasi bergambar hanya sekitar perkiraan proses berarti penciptaan. Pergeseran ini dari linier untuk pemodelan nonlinier merupakan pergeseran dalam berpikir dari transmissive ke sebuah pandangan konstitutif komunikasi. 
Beberapa definisi yang sesuai dengan konsep transaksi:
a. Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss: Komunikasi adalah proses pembentukan  makna di antara dua orang atau lebih. 
b. Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson: Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna.
c. William I. Gordon : Komunikasi adalah suatu transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan.  
d. Donald Byker dan Loren J. Anderson: Komunikasi adalah berbagi informasi antara dua orang atau lebih.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI "MY THEORY NETWORK SOCIETY" (Masyarakat Jaringan)

                  Network Society bisa juga di artikan sebagai masyarakat jaringan, orang-orang yang termasuk di jaringan ini sebagian besar adalah masyarakat global, masyarakat global adalah orang-orang yang sudah mengikuti setiap perubahan zaman yang ada di dunia misal orang yang telah menggunakan gadget untuk aktifitas keseharian mereka, tidak semua orang masuk ke jaringan global ini, namun semua orang akan merasakan dampak proses jaringan global tersebut .

                  Masyarakat Jaringan ini mulai muncul pada tahun 1970 untuk menciptakan perubahan sosial, perekonomian dan dunia yang lebih baik , istilah ini muncul karena kebutuhan masyarakat terhadap informasi semakin hari semakin bertambah, khususnya untuk mempermudah masyarakat mendapatkan informasi dan saling berhubungan satu dengan lainnya, sehingga jarak bukanlah gangguan untuk saling berhubungan, dengan berkembangnya teknologi jaringan, menyebabkan munculnya model komunikasi baru yang radikal, dimana memungkinkan tumbuhnya ‘mass self-communication’, yang juga berarti menumbuhkan otonomi subyek komunikasi, ‘vis-a-vis’ korporasi komunikasi, dimana pengguna bisa menjadi pengirim sekaligus penerima pesan.Komunikasi adalah berbagi makna melalui pertukaran informasi. Dan, makna hanya bisa dimengerti dalam kontek relasi sosial dimana pengolahan informasi dan komunikasi terjadi. 

Berbeda dengan Komunikasi Interpersonal dimana pengirim dan penerima pesan merupakan subyek komunikasi dan bersifat interaktif, sedangkan Komunikasi Massa bisa bersifat interaktif maupun satu arah serta punya potensi untuk menyebar secara luas di masyarakat (‘one to many’). Melalui internet dalam era digital, muncul bentuk baru komunikasi interaktif dengan kapasitas pengiriman pesan ‘many to many’, ‘real time’ dan juga memungkinkan untuk menggunakan komunikasi ‘point to point’, ‘broadcasting’, yang semuanya bisa diatur sesuai maksud dan tujuan komunikasi yang diinginkan, dan  Castells menyebutnya sebagai. ‘mass self-communication’. Disebut ‘self-communication’ karena setiap orang mampu membuat dan mengirim pesan sendiri dan bisa menentukan sendiri pihak-pihak yang akan dituju (‘receiver’). Ketiga bentuk komunikasi tersebut (interpesonal, komunikasi massa, mass self-communication), tetap eksis dan saling melengkapi dan bukan saling menghilangkan.

Karakteristik masyarakat jaringan sebagai sebuah paradigma teknologi informasi yang memiliki 5 atribut penting, yaitu:
1. Berbasis ekonomi kapitalis ‘informasional’ (rejuvenated form of capitalism).
2. Ekonomi dikelola secara global, tidak terkukung oleh batas-batas negara- bangsa.
3. Pengalaman manusia tentang waktu dan ruang dipindahkan ke “timeless time” dan “space of flows”.
4. Kekuasaan merupakan fungsi dari akses ke jaringan dan kendali atas aliran. Inklusi dan eksklusi jadi penentu dari berkuasa-tidaknya seseorang.
5. Sumber utama terjadinya konflik dan penentangan (resistensi) dalam masyarakat jaringan adalah kontradiksi antara sifat tak-bertempat (placeless) jaringan dan keberakaran (rootedness) manusia.