Rabu, 23 Maret 2016

INSPIRASI UNTUK BENGKULU "BENGKULU SEPERTI INI, SALAH SIAPA?"



INSPIRASI UNTUK BENGKULU

BENGKULU SEPERTI INI, SALAH SIAPA?


 

Menyandang predikat sebagai salah satu daerah tertinggal di wilayah Sumatra maupun di Indonesia membuat Provinsi Bengkulu dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat. Berbagai permasalahan bersemayam dan bahkan terus bermunculan, bukan hanya dari satu sektor melainkan dari hampir semua sektor yang secara kasat mata dapat terlihat secara jelas.


                Salah satu yang menjadi permasalahan adalah sektor pariwisata. Bahkan kebun binatang “Taman Remaja” di anugerahi gelar kebun binatang terburuk di dunia. Dari segi bangunan maupun koleksi satwa yang sangat tidak terkelola dengan baik. Jika sudah dapat anugerah seperti itu, ini salah siapa?

                Pantai yang paling terkenal di Bengkulu, yaitu pantai panjang saja belum sanggup menampakkan pesonanya. Jelas saja, tidak ada yang istimewa di pantai ini ketimbang pantai wisata di daerah lain. Bahkan sepanjang garis pantai terlihat pemandangan yang kurang sedap dipandang oleh mata, ya, lapak pedagang yang tidak tertata dengan rapih dan sampah bertebaran dimana-mana. Ini salah siapa?

                Jikalau sudah seperti ini, sulit rasanya kita untuk menghakimi siapa yang paling bersalah. Tidak hanya pantai dan kebun binatang, objek wisata vital peninggalan sejarah antara lain benteng Marlborough, rumah pengasingan Soekarno, dan musium daerah pun dapat dikatakan sepi pengunjung ketimbang dengan Mall yang ada di Kota Bengkulu. Ini salah siapa?

                Menjadi seorang pemuda yang seharusnya penuh semangat menjalani proses perubahan, namun saya tidak demikian. Saya selalu bertanya siapa yang salah di daerah ini. Sekali lagi, saya tidak mau menghakimi siapapun dalam keadaan yang sedang terjadi pada Bengkulu kita tercinta saat ini.

                Sebagai provinsi yang terletak di daerah tepi laut, perkebunan yang luas dan kekayaan perut bumi yang melimpah, namun kesejahteraan menjadi kata yang “mahal” bagi hampir seluruh masyarakat Bengkulu. Karena apa? Tentu saja mayoritas masyarakat kita berada di bawah garis kesejahteraan. Ini salah siapa?

                Di bagian pelayanan publik pun tidak begitu baik. Ambil saja contoh pelayanan kesehatan. Harapan kita sebagai calon pasien adalah mendapatkan pelayanan terbaik dan sambutan hangat dari petugas medis. Namun kenyataannya tidak demikian, bahkan kita dihadapkan dengan raut wajah masam penuh kekesalan petugas medis apabila kita datang diwaktu yang menjelang waktu istiahat mereka.

                Ruang lingkup kesehatan yang seharusnya diisi oleh orang-orang  dengan jiwa penuh simpati dan empati malah diisi oleh orang yang penuh keacuhan dengan orang lain, ang mungkin saja sangat membutuhkan pertolongan mereka. Karena pada dasarnya kesehatan adalah salah satu faktor utama penunjang kesejahteraan. Kalau sudah begini, salah siapa?

               

Sisi lain yang membuat daerah ini kurang bersahabat terutama wilayah kota adalah sikap individualisme masyarakatnya. Tidak ada kehangatan sama sekali yang tercipta ke sesama, apalagi ke para wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu. Jadi jangan heran jikalau pariwisata Bengkulu sangat sepi dan pengunjung diluar Bengkulu. Ini salah siapa?

                 Bagi sebuah Provinsi, identitas sangatlah penting, terutama apabila ingin “menjual” keistimewaan daerah tersebut. Kita ambil contoh, saat disebut Jakarta, orang akan terfikir Monas dan  ondel-ondel, Bandung dengan Gedung sate dan segala keistimewaan “Paris van Java”nya. Jogja akan  terpikir tentang malioboro dan gudegnya. Bengkulu, punya apa? Apakah masyarakat diluar Bengkulu tau? Jawaban ada pada diri anda sendiri.

                Krisis identitas? Ya tentu saja. Selama ini yang saya adalah Bengkulu tidak ada terfokus kepada satu andalan yang bakal menjadikan “simbol”  Bengkulu itu sendiri. Karena apa? Tentu saja inkonsistensi sebagian orang yang mengaku cinta Bengkulu tetapi setengah hati memperbaiki Bengkulu.

                Kegundahan saya diatas mungkimn dirasakan oleh sebagian orang terutama para pemuda yang memiliki semangat perubahan tetapi tidak tahu harus bersuara kepada siapa. Maklum pemimpin daerah agak anti untuk menerima kritik dan turun kebawah apabila mereka sudah berada diatas.

                Di era keterbukaan informasi dan digital saat ini para tokoh dan lembaga pelayan masyarakat kurang “welcome” dalam melayani dan mendengar kritikan masyarakat yang sejatinya adalah orang-orang yang menggaji mereka di lingkungan pemerintahan.

                Saat ini mungkin terkesan agak aneh apabila kita hanya memberi kritik tanpa memberi solusi. Tanpa bermaksud menggurui, namun ini adalah gagasan dari ketidaknyamanan saya selama ini. Dari semua masalah yang kompleks diderita Bengkulu tentu saja ada celah masuk untuk memperbaikinya.

                Salah satu cara termudah adalah membangun jalur komunikasi yang tepat antara pemegang kekuasaan dengan para masyarakat. Tentu saja agar para pemimpin tahu apa yang diinginkan oleh masyarakatnya. Hal ini juga untuk memapas jarak yang cenderung lebar antara pemimpin dengan rakyatnya.

                Cara seperti ini cenderung ampuh dilakukan, sebut saja Ridwan Kamil di Bandung, Ganjar Pranowodi Jateng yang aktif menggunakan media sosial untuk mendengarkan keluhan rakyatnya. Dan yang tak kalah penting adalah setiap lembaga pemerintahan di kota Bandung sudah memilki akun twitter agar lebih mudah mendengarkan kritik, saran dan keluhan dari warga kota Bandung.


                Apakah Bengkulu mau mengikuti cara tersebut? Saya rasa  tidak ada salahnya, namun yang  tak kalah penting adalah hanya bisa memperkirakan baik dan buruknya. Ciptakanlah suasana senyaman mungkin di Bengkulu, “karena kualitas manusia salah satunya ditentukan oleh faktor suasana ditempat ia tinggal” -Ridwan Kamil-.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar