INSPIRASI UNTUK BENGKULU "BENGKULU SEPERTI INI, SALAH SIAPA?"
INSPIRASI UNTUK BENGKULU
BENGKULU SEPERTI INI, SALAH SIAPA?
Menyandang predikat sebagai salah
satu daerah tertinggal di wilayah Sumatra maupun di Indonesia membuat Provinsi
Bengkulu dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat. Berbagai permasalahan
bersemayam dan bahkan terus bermunculan, bukan hanya dari satu sektor melainkan
dari hampir semua sektor yang secara kasat mata dapat terlihat secara jelas.
Salah satu yang menjadi
permasalahan adalah sektor pariwisata. Bahkan kebun binatang “Taman Remaja” di
anugerahi gelar kebun binatang terburuk di dunia. Dari segi bangunan maupun
koleksi satwa yang sangat tidak terkelola dengan baik. Jika sudah dapat
anugerah seperti itu, ini salah siapa?
Pantai
yang paling terkenal di Bengkulu, yaitu pantai panjang saja belum sanggup
menampakkan pesonanya. Jelas saja, tidak ada yang istimewa di pantai ini
ketimbang pantai wisata di daerah lain. Bahkan sepanjang garis pantai terlihat
pemandangan yang kurang sedap dipandang oleh mata, ya, lapak pedagang yang
tidak tertata dengan rapih dan sampah bertebaran dimana-mana. Ini salah siapa?
Jikalau
sudah seperti ini, sulit rasanya kita untuk menghakimi siapa yang paling
bersalah. Tidak hanya pantai dan kebun binatang, objek wisata vital peninggalan
sejarah antara lain benteng Marlborough, rumah pengasingan Soekarno, dan musium
daerah pun dapat dikatakan sepi pengunjung ketimbang dengan Mall yang ada di
Kota Bengkulu. Ini salah siapa?
Menjadi
seorang pemuda yang seharusnya penuh semangat menjalani proses perubahan, namun
saya tidak demikian. Saya selalu bertanya siapa yang salah di daerah ini.
Sekali lagi, saya tidak mau menghakimi siapapun dalam keadaan yang sedang
terjadi pada Bengkulu kita tercinta saat ini.
Sebagai
provinsi yang terletak di daerah tepi laut, perkebunan yang luas dan kekayaan
perut bumi yang melimpah, namun kesejahteraan menjadi kata yang “mahal” bagi
hampir seluruh masyarakat Bengkulu. Karena apa? Tentu saja mayoritas masyarakat
kita berada di bawah garis kesejahteraan. Ini salah siapa?
Di bagian
pelayanan publik pun tidak begitu baik. Ambil saja contoh pelayanan kesehatan.
Harapan kita sebagai calon pasien adalah mendapatkan pelayanan terbaik dan
sambutan hangat dari petugas medis. Namun kenyataannya tidak demikian, bahkan
kita dihadapkan dengan raut wajah masam penuh kekesalan petugas medis apabila
kita datang diwaktu yang menjelang waktu istiahat mereka.
Ruang
lingkup kesehatan yang seharusnya diisi oleh orang-orang dengan jiwa penuh simpati dan empati malah
diisi oleh orang yang penuh keacuhan dengan orang lain, ang mungkin saja sangat
membutuhkan pertolongan mereka. Karena pada dasarnya kesehatan adalah salah
satu faktor utama penunjang kesejahteraan. Kalau sudah begini, salah siapa?
Sisi lain yang membuat daerah ini
kurang bersahabat terutama wilayah kota adalah sikap individualisme
masyarakatnya. Tidak ada kehangatan sama sekali yang tercipta ke sesama,
apalagi ke para wisatawan yang berkunjung ke Bengkulu. Jadi jangan heran
jikalau pariwisata Bengkulu sangat sepi dan pengunjung diluar Bengkulu. Ini
salah siapa?
Bagi sebuah Provinsi, identitas sangatlah
penting, terutama apabila ingin “menjual” keistimewaan daerah tersebut. Kita
ambil contoh, saat disebut Jakarta, orang akan terfikir Monas dan ondel-ondel, Bandung dengan Gedung sate dan
segala keistimewaan “Paris van Java”nya. Jogja akan terpikir tentang malioboro dan gudegnya.
Bengkulu, punya apa? Apakah masyarakat diluar Bengkulu tau? Jawaban ada pada
diri anda sendiri.
Krisis
identitas? Ya tentu saja. Selama ini yang saya adalah Bengkulu tidak ada terfokus
kepada satu andalan yang bakal menjadikan “simbol” Bengkulu itu sendiri. Karena apa? Tentu saja
inkonsistensi sebagian orang yang mengaku cinta Bengkulu tetapi setengah hati
memperbaiki Bengkulu.
Kegundahan
saya diatas mungkimn dirasakan oleh sebagian orang terutama para pemuda yang
memiliki semangat perubahan tetapi tidak tahu harus bersuara kepada siapa.
Maklum pemimpin daerah agak anti untuk menerima kritik dan turun kebawah
apabila mereka sudah berada diatas.
Di era
keterbukaan informasi dan digital saat ini para tokoh dan lembaga pelayan
masyarakat kurang “welcome” dalam melayani dan mendengar kritikan masyarakat
yang sejatinya adalah orang-orang yang menggaji mereka di lingkungan
pemerintahan.
Saat
ini mungkin terkesan agak aneh apabila kita hanya memberi kritik tanpa memberi
solusi. Tanpa bermaksud menggurui, namun ini adalah gagasan dari
ketidaknyamanan saya selama ini. Dari semua masalah yang kompleks diderita
Bengkulu tentu saja ada celah masuk untuk memperbaikinya.
Salah
satu cara termudah adalah membangun jalur komunikasi yang tepat antara pemegang
kekuasaan dengan para masyarakat. Tentu saja agar para pemimpin tahu apa yang
diinginkan oleh masyarakatnya. Hal ini juga untuk memapas jarak yang cenderung
lebar antara pemimpin dengan rakyatnya.
Cara
seperti ini cenderung ampuh dilakukan, sebut saja Ridwan Kamil di Bandung,
Ganjar Pranowodi Jateng yang aktif menggunakan media sosial untuk mendengarkan
keluhan rakyatnya. Dan yang tak kalah penting adalah setiap lembaga
pemerintahan di kota Bandung sudah memilki akun twitter agar lebih mudah
mendengarkan kritik, saran dan keluhan dari warga kota Bandung.
Apakah
Bengkulu mau mengikuti cara tersebut? Saya rasa
tidak ada salahnya, namun yang
tak kalah penting adalah hanya bisa memperkirakan baik dan buruknya.
Ciptakanlah suasana senyaman mungkin di Bengkulu, “karena kualitas manusia
salah satunya ditentukan oleh faktor suasana ditempat ia tinggal” -Ridwan
Kamil-.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar